Report Abuse

Stats

Comment

Toleransi Islam Berdasarkan Pandangan Al-Qur'an Dan As-Sunnah

Post a Comment
Sesungguhnya segala puji bagi Allah kita memuji-Nya, meminta pemberian dan ampun kepada-Nya, kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amal-amal kita.

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang sanggup menyesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang sanggup menunjukinya.

Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad yaitu hamba dan utusan-Nya.

Amma ba'du
Sesungguhnya perilaku toleransi dalam Islam sangat nampak pada setiap perintah dan larangannya. Bahkan hingga kedetailnya, maka seharusnyalah perilaku ini menjadi kebangkitan gres untuk menapaki mutiaranya, setiap liku-liku dan aturan-aturannya.
Sikap toleransi Islam ini tidak pernah walaupun sehari, menjadi sebuah kilauan emas yang menciptakan orang-orang berdesakan mengejar fatamorgana di siang yang terik, orang haus mengiranya air namun tatkala didatangi, ia tidak mendapat apa-apa. Tapi perilaku toleransi Islam ini lebih besar daripada mafhum kemanusiaan yang dielu-elukan oleh yayasan-yayasan dan paguyuban jahiliyah di masa kini, dimana, dengan ucapan-ucapan indah mereka menipu banyak sekali suku bangsa dan kabilah, alasannya yaitu toleransi Islam mempunyai makna yang luas meliputi binatang dan tetumbuhan dan mempunyai prinsip bahwa kekerabatan seorang muslim dengan makhluk lainnya yaitu rasa kasih dan sayang walaupun dalam hal membunuh dan menyembelih.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah atau perang, -pent) maka berbuat oke dalam cara membunuh, dan kalau kalian menyembelih, maka berbuat oke dalam cara menyembelih, hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya" [Hadits Riwayat Muslim No. 1955, Ashabus Sunan dan yang lainnya]
Toleransi dalam Islam lebih dalam (nilai kandungannya) daripada mafhum kemanusiaan masa kini, alasannya yaitu toleransi ini menembus penampilan dhahir dan yang kasat mata hingga ke dasar lubuk hati yang paling dalam.
Toleransi dalam Islam lebih awet dari mafhum kemanusiaan masa kini yang akan habis dengan punahnya jenis insan di muka bumi ini, alasannya yaitu toleransi ini akan menyambungkan seorang muslim dengan kehidupan akhiratnya, di mana ia akan awet berkat rahmat dari Tuhannya di dalam nirwana yang penuh kenikmatan dan ia akan mewarisi Al-Firdaus Al-A'la berdasarkan kadar andilnya dalam toleransi ini.

Keheranan-ku tidak pernah hilang terhadap para penulis Muslim yang menjuluki Toleransi Islam dengan "Kemanusiaan Islam", mereka ibarat ucapan orang-orang kafir.
Mereka ini tatkala melaksanakan tindakan tadi telah terjatuh dalam kesalahan bertumpuk, sebagiannya lebih tinggi dari yang lainnya.
Pertama, mereka telah mengganti kebaikan dengan sesuatu yang amat jelek, dimana mereka lebih mengedepankan istilah yang dibentuk orang kini dan menolak istilah Islami yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist-hadits Nabi yang shahih.
Terakhir, mereka mempersempit lingkup yang luas, alasannya yaitu mafhum toleransi dalam Islam lebih luas dan lapang daripada kawasan 'kemanusiaan', sebagaimana yang engkau (pembaca) lihat gres saja.
Risalah yang ada dihadapanmu ini wahai saudaraku muslim, akan mengantarmu ke serambi toleransi Islam yang luas, semoga engkau sanggup leluasa dalam naungan-Nya dan memetik buahnya yang telah masak, supaya kebaikannya sanggup dirasakan oleh umat Islam dan sanggup menguatkan jalinan tali cinta dan kelembutan dikalangan para da'i Islam. Sehingga darah mereka saling terlindungi, orang rendahnya sanggup mengejar tanggung jawab mereka, bersatu bergandengan tangan. Melawan musuh-musuhnya dan menyelamatkan insan dari jerat-jerat kesesatan menuju jalan yang lurus.

Sungguh, saya berharap kepada Allah semoga saya telah memudahkan, meringankan dan menggampangkan mafhum toleransi kepada kaum muslimin semampuku. Mudah-mudahan Allah mema'afkan saya dan saudara-saudaraku fillah pada suatu hari yang tidak akan bermanfaat harta benda dan keturunan kecuali yang tiba menghadap Allah dengan hati yang selamat.
Wa-'alaa Al-Llahi Qashdu As-Sabiili.

Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly
Pada tanggal 8 Syawal tahun 1407 Hijriyah

Related Posts

Post a Comment