Penceramah menyampaikan dalam ayat ini Allah menyebut Nahnu nazzalna yang berarti Kami yang menurunkan. Allah tidak sebut Ana. Lalu penceramah membandingkan dengan surah al-Qadr. Katanya surah al-Qadr tidak menyebut nahnu nazzalna tapi anzalna yang berarti saya turunkan.
Saat itu saya terperanjak di daerah duduk. Sambil bergumam saya berkata dalam hati biar penceramah ini mau berguru Bahasa Arab lebih ulet lagi. Dia tampaknya keliru memahami kata anzalna. Dikiranya pelaku kata kerja anzalna yakni "saya". Padahal pelakunya juga "Kami". Hanya saja muncul dengan kata dasar berbeda. Kata anzalna berasal dari kata anzala. Sedangkan nazzalna berasal dari kata nazzala. Kedua kata ini dipahami dalam makna "menurunkan". Pelaku kata kerja ini sama-sama nahnu. In sya Allah di lain kesempatan saya akan posting terkait makna nazzala dan anzala dalam konteks turunnya al-Qur'an.
Kembali ke masalah tadi, perlu menjadi perhatian bagi semua orang betapa pentingnya pengetahuan ihwal Bahasa Arab. Banyak alasan untuk berguru Bahasa Arab. Di antara alasan terpenting yakni alasannya dia yakni bahasa Al-Qur'an. Salah memahami dan memaknainya, berakibat salah dalam memahami sumber ajaran. Pada postingan terdahulu saya juga pernah sampaikan kekeliruan pelafalan takbir dan lafal ibadah lainnya. Di antara faktornya diduga juga alasannya tidak memahami Bahasa Arab.
Makna Kata "Kami" Dalam Al-Qur'an
Kurang fair juga jikalau postingan ini hanya menjelaskan urgensi Bahasa Arab. Perlu juga saya komentari sekilas ayat sembilan surah al-Hijr terutama makna "Kami" yang Allah sebut dalam ayat ini.
Ada dua kemungkinan makna saat Allah menyebut kata "Kami" dalam al-Qur'an. Pertama, kata ini dipahami dengan pengertian muadzdzam linafsihi (membesarkan/ memberikan ke-Mahaagungan diri-Nya). Artinya Allah memakai "Kami" yakni untuk memberikan diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Besar, Tuhan Yang Maha Agung.
Jika dicontohkan dalam keseharian ada juga penggunaan kata kami yang dipakai seseorang saat berbicara. Padahal orang yang berbicara sendiri. Begitu juga saat berbicara kepada seseorang dengan memakai kamu (antum), padahal lawan bicaranya hanya satu orang yang seharusnya dipakai kata ganti engkau (anta/anti).
Dalam masalah ayat di atas Allah memberikan ke-Mahabesaran-Nya dengan menurunkan al-Qur'an. Artinya, turunnya al-Qur'an yakni suatu tragedi yang besar. "Aktor" dari tragedi besar itu yakni Allah Yang Besar. Peristiwa besar itu tidak akan terwujud kecuali atas skenario Tuhan Yang Maha Besar. Tidak ada yang sanggup menurunkan al-Dzikra kecuali Zat Yang Maha Besar Kuasa-Nya.
Kedua, penggunaan "Kami" dalam arti adanya keterlibatan unsur lain selain Allah. Dalam konteks turunnya al-Qur'an pada masalah ayat sembilan surah al-Hijr di atas, ada keterlibatan unsur lain dalam proses turunnya al-Qur'an yaitu Jibril a.s. Bahwa turunnya al-Qur'an kepada Nabi Muhammad Saw. melalui mediator malaikat Jibril a.s.
Kedua makna di atas sanggup dipahami secara terpisah dan sanggup juga digabung pemahamannya. Jika dipahami dalam makna pertama, maka makna "Kami Yang Menurunkan al-Qur'an" sanggup dipahami bahwa al-Qur'an diturunkan oleh Allah Yang Maha Besar. Jika dipahami dengan makna yang kedua, maka dipahami bahwa turunnya al-Qur'an kepada Nabi Muhammad Saw. melalui mediator malaikat Jibril a.s. Kedua makna di atas pada hakikatnya tidak bertentangan. Bisa saja digabung pemahaman keduanya sehingga dipahami bahwa turunnya al-Qur'an yakni suatu tragedi besar. Adanya Keterlibatan unsur lain pada proses turunnya al-Qur'an tidak mengurangi ke-Mahabesar-an Allah.
Contoh lain contohnya dalam penciptaan manusia. Penciptaan insan itu yakni suatu masalah yang besar. Allah yang membuat manusia. Manusia terlahir dari proses perkawinan orang tua. Namun, kelahiran seorang anak tidak terwujud hanya dengan keberadaan orang bau tanah saja. Ada keterlibatan Tuhan dalam proses itu. Tidak sanggup dikatakan bahwa setiap orang yang menikah niscaya punya anak. Karena keberadaan anak niscaya atas izin Allah. Lihat ayat ihwal penciptaan insan yang Allah gunakan kata ganti "Kami" sebagai pelakunya.
Wallahu A'lam.
Post a Comment
Post a Comment