Syarah Hadits Arbain Nawawi Ke 29 dan Terjemahannya Tentang Amalan Yang Menghantarkan Ke Surga
[Tirmidzi no. 2616]
Penjelasan:
Kemudian sabda dia “mengerjakan shalat”, yaitu melaksanakannya dengan cara dan keadaan paling sempurna. Kemudian dia menyebutkan syari’at-syari’at Islam yang lain, menyerupai zakat, puasa dan haji.
Kemudian sabda dia “inginkah kuberi petunjuk kepadamu pintu-pintu kebaikan? Puasa itu ialah perisai”, maksudnya ialah selain puasa Ramadhan, alasannya puasa yang wajib telah diterangkan sebelumnya. Jadi, maksudnya ialah banyak berpuasa sunnat. Perisai maksudnya ialah puasa itu menjadi tirai dan penjaga dirimu dari siksa neraka.
Kemudian sabda dia “shadaqah itu menghapuskan kesalahan”. Maksud shadaqah di sini ialah zakat.
Sabda dia “shalat seseorang di tengah malam”.
Kemudian dia membaca ayat :
“Lambung mereka jauh dari daerah tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang kami berikan kepada mereka. Maka suatu jiwa tidak sanggup mengetahui apa yang dirahasiakan untuk mereka, yaitu akibat yang menyejukkan mata, sebagai ganjaran dari amal yang telah mereka lakukan”.
(QS. As Sajadah 32 : 16-17)
maksudnya orang yang shalat tengah malam, dia mengorbankan kenikmatan tidurnya dan lebih mengutamakan shalat alasannya semata-mata mengharapkan pahala dari Tuhannya, menyerupai tersebut pada firman-Nya : “Maka suatu jiwa tidak sanggup mengetahui apa yang dirahasiakan untuk mereka, yaitu akibat yang menyejukkan mata, sebagai ganjaran dari amal yang telah mereka lakukan”. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Allah sangat membanggakan orang-orang yang melaksanakan shalat malam di ketika gelap dengan firman-Nya dalam sebuah Hadits Qudsi : “Lihatlah hamba-hamba-Ku ini. Mereka berdiri shalat di gelap malam ketika tidak ada siapa pun melihatnya selain Aku. Aku persaksikan kepada kau sekalian (para malaikat) sungguh Aku sediakan untuk mereka negeri kehormatan-Ku”.
Sabda dia : “Maukah kuberitahukan kepadamu wacana kunci semua masalah itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasulullah”. Maka dia memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami dituntut (disiksa) alasannya apa yang kami katakan?” Maka dia bersabda : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan pengecap mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengumpamakan masalah ini dengan unta jantan dan Islam dengan kepala unta, sedangkan binatang tidak akan hidup tanpa kepala.
Kemudian sabda dia “tiang-tiangnya ialah shalat”. Tiang suatu bangunan ialah alat penyangga yang menegakkan bangunan tersebut, alasannya bangunan tidak akan sanggup berdiri tegak tanpa tiang.
Sabdanya “puncaknya ialah jihad”, artinya jihad itu tidak tertandingi oleh amal-amal lainnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Ia berkata bahwa ada seseorang lelaki tiba kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian berkata :
“Tunjukkan kepadaku amal yang sepadan dengan jihad”. Sabda dia : “Tidak saya temukan”. Kemudian sabda dia : “Adakah engkau sanggup masuk ke dalam masjid, kemudian kau melaksanakan shalat Lail tanpa henti dan puasa tanpa berbuka selama seorang mujahid pergi (berperang)?” Orang itu menjawab : “Siapa yang sanggup berbuat begitu!”
Sabdanya : “maukah kuberitahukan kepadamu wacana kunci semua masalah itu?” Jawabku : “Ya, wahai Rasullah”. Maka dia memegang lidahnya dan bersabda : “Jagalah ini”, maksudnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menggalakkan dia pertama kali untuk berjihad melawan orang kafir, kemudian dialihkan kepada jihad yang lebih besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu, menahan perkataan yang menyakitkan atau menjadikan kerusakan alasannya sebagian besar insan masuk neraka alasannya lidahnya.
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Semoga engkau selamat. Adakah yang menjadikan orang menyungkurkan mukanya (atau ada yang meriwayatkan batang hidungnya) di dalam neraka, selain ucapan pengecap mereka?” Penjelasannya telah ada pada Hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari alam abadi hendaklah ia berkata baik atau diam”.
Demikian juga pada Hadits lain disebutkan :
“Barang siapa memberi jaminan kepadaku untuk menjaga apa yang ada di antara kedua bibirnya dan apa yang ada di antara kedua pahanya, maka saya jamin dia masuk surga”
Post a Comment
Post a Comment