Report Abuse

Stats

Comment

Kuliah Online Bersama Ustadz Yusuf Mansur (Tauhid I)

Post a Comment

oleh Network ustadz Yusuf mansyur 

Bahagia bener aku pagi ini. Hampir jam 01 aku berdiri dari tidur yang terasa sudah terlalu lama. Ugh, padahal aku lihat jam, aku trnyata gres tidur jam 11 malam tadi.
Saya senang alasannya yakni aku pulang jam 00 lewat dalam keadaan aku sehat. Saya masuk ke kamar saya, istri aku tertidur dengan pulasnya. Dan di sebelahnya tertidur pahlawan kecil kami, Muhammad Yusuf al Haafidz, juga dalam keadaan yang sehat. Saya kontrol kamar Wirda, Qumii dan Abang Kun. Semuanya tertidur pulas. Ada ketenangan di wajah-wajah mereka. Saya cium Wirda dan aku mendoakan bawah umur saya. Tidak lupa juga aku doakan para santri.
Saya bahagia, alasannya yakni jam 10.30 malam sebelumnya aku ketemu dengan Haji Amril dan Ibu Amril. Dua donatur pondok yang sudah menganggap kami sebagai keluarga mereka dan mereka juga sebagai keluarga kami. Dari awal kami membangun Bulak dan hingga ke Sekolah Internasional ini, dia berdua dan keluarganya menemani kami. Saya makan roti cane plus kare. Duh, nikmatnya diberi kesehatan.
Saya bahagia, bahwa jam 21 sebelumnya aku berangkat ke Ustadz Abu Sangkan, pimpinan Shalat Center yang menggerakkan Indonesia untuk shalat khusyu’. Ustadz fenomenal ini salah satu ilham saya. Saya senang aku didoakan di tengah-tengah ribuan jamaahnya yang dikala itu hadir di Shalat Center di Jati Makmur, Pondok Gede. Di sana, ada satu jamaah yang juga sudah menyerupai keluarga bagi aku pribadi, Haji Syamsul Ma’arif Surabaya. Dan dari beliaulah menjadi wasilah aku ketemu dengan Ustadz Abu Sangkan. Say didoakan Ustadz Abu Sangkan biar pengecap saya, hati saya, pikiran saya, gerakan saya, menjadi atas nama Allah. Dan cukup panjang bagi aku Ustadz Abu Sangkan mendoakan saya, hingga aku hampir-hampir meneteskan air mata. Ya, aku rasa, beginilah ketika tamu-tamu aku tiba ke pesantren, selalu aku bacakan doa di tengah-tengah santri. Barangkali inilah salah satu akibat Allah untuk aku dan keluarga saya. Alhamdulillah. Saya pun bahagia, begitu mau pulang aku dihadiahinya buku “Spiritual Salah Kaprah”. Alhamdulillah.
Saya bahagia, jam 17.00 nya kurang lebih, aku hingga di kediaman Haji Ramos, orang renta dari Fadhil santri kami. Meskipun jaraknya terasa jauh, Ketapang-Cilegon, namun ditempuh “hanya” satu jam dari pondok. Dan aku manfaatkan untuk istirahat. Saya jalan jam 16, sehabis sebelumnya menyempatkan berjamaah dengan indah bersama satu dua guru yang tersisa di pondok dan para tukang. Diimami oleh mertua saya. Alhamdulillah.
Saya tiba, bawah umur santri yang dikala itu berjadwal buka puasa dan tarawih bareng di kediaman Haji Ramos tampak senang sekali. Ternyata memang para santri benar bahagia. Senang. Sebab kediaman Haji Ramos ini unique. Ada bak renang yang terkoneksi dengan sekian rumah yang melingkar di Cilegon Residence, di bahagian tengahnya. Dan bak renang itu menyerupai di daerah pelesir. Para santri senang, aku tambah senang lagi melihatnya. Saya bercanda dengan Fadhil dan beberapa santri mitra Fadhil, “Jangan kebetahan ya, nanti lupa balik ke pesantren, he he he”.
Saya bahagia, alasannya yakni jam 17.15 nya aku bercengkerama dengan beberapa wali santri yang lain yang ternyata turut diundang di program tersebut, sehingga menjadi hadiah yang tidak terkatakan buat aku besarnya. Kesempatan berdialog dengan wali santri yakni sesuatu yang mahal buat saya. Bisa berbagi, dapat share, dapat satu rasa.
Saya bahagia, di antara percakapan kami yakni ihwal Baitullah. Tentang rumah Allah.
Fabi-ayyi aalaa-i robbikumaa tukadzdzibaan, nikmat mana lagi yang engkau dustakan? Tanya Allah kepada kita semua.
Saya senang menjadi bahagian dari dakwah ini. Mudah-mudahan aku dapat menemani perjalanan Saudara semua sambil turut pula belajar.

Related Posts

Post a Comment