![]() |
RAHASIA SEDEKAH : Ibu Janda Yang Bersedekah Rp. 1 Juta |
Bukan problem duit yang tersisa yang bekerjsama yang menciptakan ia hampir menangis. Namun, sungguh saldo itu semakin jauh saja dari Biaya Setoran Haji yang berjumlah 28 juta.
Sudah berkali-kali ia mencoba menyisihkan uang yang ia miliki untuk sanggup berhaji. Namun sudah berulang kali angka saldo itu tidak pernah lebih dari Rp 8 juta. Setiap kali hingga angka tersebut, selalu ada saja keperluan mendesak yang harus ia tutupi. Jadi, saldo di tabungan bukannya makin bertambah, yang ada selalu kurang dan berkurang. Semalam Hastuti tak kuasa menahan gundahnya. Ia laporkan kegalauannya kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dalam doa & munajat.
Seolah menerima wangsit dari Allah, paginya ia menarik dana sebesar 1 juta. Kali ini dana yang ia tarik bukan untuk keperluannya pribadi, namun uang sejumlah itu akan ia infakkan kepada bawah umur yatim yang berada di lingkungannya.
Sejak pagi, ibu Hastuti sudah keluar dari rumah. Menjelang sore, gres ia kembali sehabis mengambil uang di bank dan kemudian membagikannya kepada bawah umur yatim di sekitar.
Ia tiba di rumah pada pukul setengah empat sore. Ia pribadi menuju kamar. Usai ganti baju dan shalat Ashar, ia panggil pembantunya yang berjulukan Ijah untuk mengembangkan secangkir teh.
Ijah pun tiba dan membawakan teh untuk sang Majikan. Dalam rumah seluas 200 meter itu, hanya mereka berdua yang mendiami. Ibu Hastuti yakni seorang wanita yang sudah belasan tahun menjanda. Ia memilik 3 orang putra dan 2 putri. Kini semuanya telah berkeluarga dan meninggalkan rumah. Ibu Hastuti tinggal sendiri bersama Ijah dalam masa tuanya. Hal ini mungkin yakni sebuah potret lumrah masyarakat modern Indonesia zaman sekarang.
Saat Ijah tiba membawa teh pesanan majikannya. Setelah meletakkan cangkir teh di meja, Ijah mendekat ke arah majikannya untuk memyampaikan sebuah berita.
"Bu..., tadi dikala ibu pergi, den Bagus tiba kira-kira jam 9. Ia tadinya mencari ibu, tapi alasannya yakni ibu gak ada di rumah, ia nulis surat dan nitipkan sebuah amplop cokelat."
Ibu Hastuti pun kemudian mengatakan, "Oalah... Kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Aku khan juga kangen. Sudah usang gak ketemu. Ayo, mana Jah suratnya. Mungkin ia juga kesel sudah tiba jauh-jauh tapi gak ketemu dengan bundanya."
Ijah pun masuk kembali untuk mengambil surat den Bagus dan amplop yang dititipkan. Amplop cokelat itu ibarat berisikan sejumlah uang. Bentuknya pun tebal. Apalagi dalam amplop tersebut bertuliskan logo sebuah bank. Namun hasrat untuk membuka amplop itupun ditahan oleh Bu Hastuti. Tangannya kemudian bergerak ke selembar kertas yang disebut sebagai surat oleh Ijah.
Bu Hastuti mulai membacanya. Diawali dengan basmalah dan salam, surat itu dibuka. Tak lupa ucapan dan doa kesehatan untuk bunda dari anak-anaknya.
Tak lebih dari 2 menit, surat itu telah simpulan dibaca oleh ibu Hastuti. Namun dalam masa yang singkat itu, air mata membanjiri kedua matanya, mengalir deras menetesi pipi dan beberapa bulir terlihat jatuh di surat yang ia pegang. Kemudian ia pun mengintip uang yang berada dalam amplop cokelat itu. Kemudian ia berucap kata "Subhanallah!" berulang-ulang seraya memanjatkan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan atas anugerah yang tiada terkira.
Seusai mengontrol hatinya, ia segera menelpon Bagus, anak pertamanya. Saat nada sambung terdengar, ia menarik nafas yang dalam. Begitu tersambung, bu Hastuti pribadi mengucapkan salam dan mengatakan,
"Terima kasih ya Nak... Subhanallah, padahal gres semalam ibu berdoa mengadu kepada Allah kepingin berhaji, tapi ibu aib mau dongeng kepada kalian semua. Takut ngerepotin... Eh, kok malah pagi-pagi kalian semua sudah nganterin duit sebanyak itu. Makasih ya, Nak... Nanti ibu juga mau telponin adik-adikmu yang lain. Semoga murah rezeki dan tambah berkah!"
Di seberang sana, Bagus putra pertamanya berkata, "Sama-sama bu... Itu hanya kebetulan kok. Beberapa hari lalu, saya ajak adik-adik untuk rembugan semoga sanggup menghajikan ibu. Kebetulan kami semua lagi diberi kelapangan, maka Alhamdulillah uang itu sanggup terkumpul. Mudah-mudahan ibu sanggup berhaji selekas mungkin...."
Nada bunyi Bagus terdengar ceria oleh ibunya. Seceria hati Hastuti kini. Sudah usang ia bersabar untuk sanggup berhaji ke Baitullah.
Alhamdulillah sehabis penantian sekian lama, Allah lapangkan jalan bu Hastuti untuk tiba ke rumah-Nya dengan begitu mudah. Dengan dana Rp 30 juta dari anak-anaknya, niat untuk berhaji pun ia wujudkan pada tahun 2004. Walillahil Hamd!
( Oleh : Bobby Herwibowo )
Post a Comment
Post a Comment