![]() |
RAHASIA SEDEKAH : Yakin 1 Dibalas 10 |
---
Saya tak dapat membayangkan, bagaimana seandainya hidup yang sementara ini tidak ada kamus shadaqahnya. Pasti hidup tak karuan. Saya sangat percaya itu. Karena infak dan shadaqahlah yang menciptakan saya menyerupai dikala ini. Bukan harta berkurang, tetapi semakin tambah berlipat-lipat. Seolah-olah rezeki tiba dari aneka macam penjuru, sebagaimana janji-Nya.
Saya masih ingat betul dikala pertama kali merintis perjuangan ini. Jatuh berdiri saya rasakan. Sekitar tahun 1998, ketika krisis ekonomi melanda negeri ini, saya mencoba mengawali usaha. Dengan kesungguhan, bertahap saya mencoba mempertahankannya. Dan alhamdulillah, perjuangan itu terus berkembang sampai sekarang. Yang menciptakan saya semakin bersyukur ialah perjuangan berkembang di luar perhitungan. Karena kondisi ekonomi dikala itu lagi sulit. Banyak perjuangan serupa gulung tikar.
Dan saya yakin, Allah telah membuatnya demikian. Saya mencoba menata niat kalau perjuangan ini tidak saya hitung secara bisnis. Tapi, saya lebih berharap barakah Allah dari apa yang saya geluti. Meskipun Allah telah menguji saya dengan kelapangan harta, namun saya selalu merasa was-was kalau harta yang saya terima ini tidak bermanfaat, apalagi membawa mudharat. Berapapun jumlah rezeki tidak ada gunanya kalau tidak kita bagi dengan saudara-saudara kita yang memerlukan.
Kekuatan Shadaqah
Ternyata, manfaat dari kebiasaan bershadaqah itu luar biasa. Yakinlah, Allah niscaya akan menolong kita bila kita mau menolong-Nya. Dan Dia tidak akan pernah ingkar kesepakatan itu. Mungkin insiden ini dapat dijadikan contoh. Suatu kali, anak saya mengalami sakit yang tidak sembuh-sembuh. Berbagai macam obat dan dokter saya datangi. Tetapi tak membuahkan hasil apa-apa. Karena kebiasaan membuatkan itulah yang saya jadikan solusi.
Tanpa pikir panjang, uang yang seharusnya untuk beli obat saya pakai membeli sekarung beras. Beras itu saya berikan kepada keluarga yatim dan miskin di sekitar rumah. Dan apa yang terjadi. Di luar perhitungan sebelumnya, sakit anak saya berangsur-angsur mulai membaik. Keajaiban shadaqah itu benar-benar saya alami.
Saya tak tahu mengapa menyerupai itu. Hanya saja, setiap kali saya tak shadaqah, rasanya ada yang kurang. Perasaan was-was, gelisah, dan pusing pribadi menyergap saya. Sehari saja tidak shadaqah, tubuh terasa sakit semua. Mungkin dengan cara begitu Allah menegur saya.
Kepada bawah umur yatim, tukang sapu jalanan, dan dhuafa lainnya saya berbagi. Pikir saya, betapa susahnya mereka, hidup serba kekurangan dan dengan segala keterbatasan. Saya juga mencoba membesarkan lima Taman Kanak-kanak binaan dan sebuah yayasan pemberdayaan umat. Terus, bagaimana seandainya kita yang punya kelebihan tidak mau peduli pada mereka? Betapa sayangnya, orang berpunya tapi kikir dengan hartanya. Padahal, di setiap harta yang dimiliki ada haknya orang-orang yang tak berpunya.
Tradisi Keluarga
Bila dirunut ceritanya, kebiasaan zakat, shadaqah, dan infak ialah kebiasaan keluarga. Orang bau tanah saya (H. ABU ALI-Hj. PANCAR) sedari kecil membiasakan anak-anaknya untuk melakukannya. Mereka memberi tumpuan kepada anak-anaknya dengan menyantuni fakir miskin. Seringnya melihat kebiasaan itu, menciptakan kami menjadi terbiasa.
Nah, tumpuan itu pula yang saya tularkan kepada anak-anak. Selain mengajak mereka untuk pribadi tiba ke orang yang kita santuni, mereka saya sarankan untuk punya sobat asuh. Tujuannya, supaya mereka dapat saling membantu. Dengan cara-cara menyerupai itulah saya coba memanfaatkan apa yang saya miliki. Dengan banyaknya manfaat dari shadaqah yang saya rasakan itulah saya menyebutnya sebagai ’kaya dengan kecepatan’.
( Oleh : Hj AISYAH - Pemilik Warung Pecel Pincuk Suroboyo
Post a Comment
Post a Comment