Menurut versi sejarah terkenal Perang Bubat dikenal sebagai insiden pembantaian rombongan pengantin Calon permaisuri Prabu Hayam Wuruk oleh Patih Gajah Mada
Iringan tersebut dipimpin eksklusif oleh Raja Sunda Galuh, Prabu.. demi menemani dan menghadiri secara eksklusif prosesi ijab kabul putrinya, di Istana Majapahit. Putri Dyah Pitaloka.
Kisah ini diambil dari Kidung Sunda, Kidung Sundayana , Carita Parahiyangan , dan juga Serat Pararaton .
Sekalipun banyak juga pihak dan pakar sejarah yang merasa keberatan atas kisah tersebut dengan menyampaikan bahwa kitab kitab yang memuat kisah perang bubat versi ini ialah kisah buatan atau versi sejarah yang sengaja dipilih dan dipublikasikan oleh para penjajah yang ditulis oleh para pujangga yang dimaksudkan untuk membantu memuluskan langkah para penjajah melaksanakan politik pecah belah, alias devide et impera dengan menanamkan kebencian turun temurun atas 2 bangsa terbesar Nusantara, Bangsa Jawa dan bangsa Sunda.
Gajah Mada, Kambing Hitam Perang Bubat Dalam Sejarah Buatan Kolonial Perang Bubat Sunda Galuh - Majapahit
Gajah Mada ialah seorang Patih yang sangat berjasa dalam Lembaran sejarah Hidup Kerajaan Majapahit, Ia dikenal sebagai Abdi Raja raja Majapahit yang sangat setia, taat kepada Para Raja dan Ratu Majapahit, serta sangat berbakat dalam mengurus pemerintahan dan perang sehingga dalam "Asuhannya" Para Raja Majapahit gilang gemilang namanya dan Kerajaan Majapahit memasuki zaman keemasannya.
Namun keberhasilannya tersebut tidaklah serta merta mengakibatkan seluruh pejabat Kerajaan bersenang hati kepadanya, lebih lebih pada para pejabat basi dan dengki yang kerjanya hanya cari muka dan menginginkan kekuasaan yang lebih dan kekayaan yang terus menerus ingin ditumpuknya.
Gajah mada yang dengan nrimo ingin mengabdi kepada Raja, Negara dan bangsanya secara nrimo hanya mereka lihat sebagai watu besar ditengah jalan yang harus disingkirkan.
Dalam artikel ini, admin hanya ingin menuangkan uneg uneg pribadi admin atas sebuah kisah Perang Bubat yang fenomenal itu. Sebuah versi lain dari perang bubat yang merupakan kesimpulan dari analisis pribadi admin yang niscaya sangat tidak wajib untuk anda percaya. goresan pena ini hanyalah hasil sebuah tinjuan pribadi oleh admin yang tengah berdiskusi dengan dirinya sendiri dari data data yang admin dapatkan dari banyak sekali sumber.
Perang Bubat, Usaha Awal menyingkirkan Patih Gajah Mada dari Istana dalam rangka memuluskan Pemberontakan Daha (Kediri) atas Majapahit.
Dikisahkan bahwa Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk tengah mencari permaisuri, Atas proposal dan bujukan para pejabat di kerajaannya, Prabu hayam wuruk kesudahannya berniat memperistri Putri Dyah Pitaloka, seorang putri dari kerajaan sunda galuh, para pejabat kerajaan juga mengusulkan semoga pesta ijab kabul tersebut harus digelar di kerajaan Majapahit, proposal tersebut juga diterima oleh sang prabu, maka dengan segera Majapahit mengirim surat lamaran menuju kerajaan sunda galuh.
Mendengar kabar tersebut, dengan banyak sekali pertimbangan kesudahannya sang raja galuh pun menyambut baik dan sangat berkenan menunjukkan restu apabila sang putri dyah pitaloka dijadikan permaisuri Prabu Hayam Wuruk.
Sang Raja Kerajaan Galuh tetapkan untuk berangkat sendiri menemani sang puteri untuk bertemu dengan calon suaminya dengan dikawal sepasukan prajurit pilihan untuk mengamankan sang raja dan sang putri selama dalam perjalanan menuju istana Majapahit.
Berbeda dengan versi terkenal lainnya yang menyampaikan rombongan pengantin dari kerajaan sunda galuh memakai jalur darat, atas pertimbangan keamanan, rombongan prabu memakai jalur maritim untuk tiba menuju istana Majapahit. Prabu.. membagi pasukan menjadi dua kelompok, kelompok pertama menemani sang prabu menuju Istana, dan kelompok satunya lagi bertugas menjaga keselamatan sang putri di dermaga.
Tanpa diduga, dalam perjalanan rombongan menuju istana, prabu galuh dihadang oleh pasukan khusus Majapahit yang jauh lebih banyak jumlahnya. Mereka berniat melenyapkan rombongan iring iringan sang calon pengantin Prabu hayam wuruk tersebut.
Singkat cerita, sang prabu dan pasukan kerajaan galuh gugur dalam pertempuran tersebut, Sementara rombongan sang putri masih menunggu di dermaga dan terkena wabah penyakit sehingga semuanya meninggal dunia, versi yang lebih terkenal menyampaikan bahwa seluruh prajurit dan dayang dayang pengiring sang pengantin yang tengah berduka itu melaksanakan bela pati, bunuh diri masal sebagai protes atas kabar terbunuhnya sang Raja.
Laporan mengenai insiden tersebut menciptakan murka Prabu Hayam Wuruk, Sang Raja menuduh Sang Patih terlibat dalam kasus tersebut dan meminta pertanggung balasan Patih Gajah Mada sebagai kepala pemerintahan Majapahit.
Patih Gajah Mada yang merasa tidak tahu menahu dan tidak menunjukkan perintah pembantaian rombongan raja galuh tersebut bersikukuh mengelak atas tuduhan tersebut. Pada kesudahannya Sang Patih yang telah sepuh dan mengabdikan hampir seumur hidupnya untuk mengabdi di Kerajaan Majapahit selama 4 generasi itu dicopot jabatannya dan diusir dari istana dengan sangat tidak hormat oleh prabu hayam wuruk yang tengah murka itu.
Ibunda Prabu Hayam Wuruk, Ratu Tribuwana Tungga Dewi, berusaha meredam amarah putranya itu dan mengingatkan kembali atas jasa jasa Gajahmada yang telah mengabdi kepada majapahit sampai beberapa generasi tersebut. Namun nasehat sang Ibu Suri tidak sedikitpun dihiraukan oleh Sang Raja.
Gajah Mada Meninggalkan Majapahit..
![]() |
Gambar Ilustrasi Mahapatih Gajah Mada sewaktu muda |
Dengan menanggung rasa kecewa dan sakit hati alasannya ialah merasa dikambing hitamkan atas sabotase itu dan diperlakukan sedemikian bernafsu oleh junjungannya, Gajahmada pun pergi meninggalkan istana dan kesudahannya bersemedi di sebuah gunung dan melaksanakan moksa (Meninggalkan alam Mayapada beserta Sukma dan Jasadnya).
Menurut riwayat lain yang lebih terkenal Gajah Mada keluar meninggalkan wilayah kerajaan Majapahit dan kesudahannya dimakamkan di sebuah desa di Filipina. Sedangkan Prabu Hayam wuruk kesudahannya menikah dengan Paduka Sori, putri Bhre - Wengker, Raja Daha (Kerajaan Kediri)
Daha (Kediri) memberontak dan mengkudeta Prabu Brawijaya, Sang Raja Majapahit terakhir.
Sepeninggal Hayam Wuruk, penggantinya yakni Prabu Brawijaya v mulai menghadapi pemberontakan dari Daha, Istana Timur Majapahit yang berada di kediri, dimana tanpa sang pilar Kerajaan yang kokoh dan setia tersebut, Majapahit kacau balau dilanda perang saudara (Perang Paregreg). Majapahit pun berhasil di duduki oleh para pemberontak dari keluarga Kerajaan Kediri. Sementara Prabu Brawijaya V dan para abdinya yang setia mengungsi ke kerajaan Blambangan di Banyuwangi.
Putra Prabu Brawijaya, Mengambil kembali Kerajaan Ayahnya dari Cengkeraman Kediri
2 Tahun kemudian, Raden Patah, selaku Sultan Demak yang tidak lain ialah salah seorang Putra dari Prabu Brawijaya V berhasil menduduki kembali Istana Majapahit dan melenyapkan para pemberontak.
Sunan Kalijaga selaku bab dari dewan penasehat kerajaan Demak, menemui Prabu Brawijaya V untuk meminta pengakuan putranya tersebut sebagai penggantinya memimpin Majapahit. Hal ini sanggup juga dinggap pula sebagai Penghargaan atas jasanya mengusir para pemberontak. Hanya saja Prabu Brawijaya tidak berkenan dikarenakan telah berniat menyerahkan tahtanya kepada sang putra mahkota yang lebih disayanginya.
Raden patah tidak menghiraukan penolakan ayahandanya tersebut, sehingga Istana Majapahit dibongkar, Senjata pusaka dan lambang negara dibawanya pulang kembali ke Kerajaan Demak Bintoro dan Ibukota Majapahit dijadikan hanya sebagai wilayah kantor kadipaten.
Alasan lainnya ialah alasannya ialah tradisi dalam kerajaan2 Jawa yang menganggap bahwa Istana yang pernah dikuasai musuh sudah tidak layak lagi untuk dihuni seorang Raja Jawa.
Penutup
Maka dengan demikian, telah runtuhlah kerajaan Majapahit yang sangat megah itu, yang di awali dengan seni administrasi gelap dan rapi untuk menyingkirkan Pilar utama Negara, Sang Mahapatih Gajah Mada melalui proses pengkambinghitaman dan pengusiran Sang Patih Sepuh yang sangat setia kepada Raja dan Negaranya itu, disusul oleh ijab kabul Raja Majapahit dengan Putri Kediri dan selanjutnya pengambilalihan kekuasaan dari Prabu Brawijaya V atas Majapahit oleh Raja Daha (Kediri) sehingga nanti pemberontakan itu sanggup diatasi oleh Raden Patah, Sang Putra Prabu Brawijaya V yang tetapkan untuk menutup Kerajaan Majapahit dengan menjadikannya sebagai bab dari ilayah kerajaan Demak Bintara.
Wallahu a’lamu..
Post a Comment
Post a Comment